Liputan6.com, Jakarta – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan, operator taksi online hingga kini belum banyak memerhatikan dasar-dasar pelayanan seperti standar keamanan dan keselamatan bagi konsumen.

Ketua YLKI Tulus Abadi mengatakan, para pemakai taksi online memiliki risiko keselamatan yang tinggi lantaran supir bisa mendapatkan data pribadi konsumennya dengan mudah, seperti nomor telepon hingga lokasi tempat tinggalnya.

“Saya berangkat dari kasus kemarin, ketika seorang wanita bernama Siska dibunuh oleh supir taksi online. Ini klimaks, bahwa taksi online tidak aman bagi penggunanya. Jadi kalau dulu masyarakat konsumen mengatakan naik taksi online lebih aman dan nyaman, itu sudah jadi mitos belaka,” ucapnya di Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Dia menuturkan, sistem taksi online tidak memiliki standar keamanan dan keselamatan yang baku.